Beranda » Anak Muda Batam Jangan Jadi Penonton Ekonomi Digital, Sekda Ingatkan Bahaya FOMO Kripto

Anak Muda Batam Jangan Jadi Penonton Ekonomi Digital, Sekda Ingatkan Bahaya FOMO Kripto

0
Screenshot_2026-09-06-23-14-59-090_com.android.chrome

Cahayamelayu.my.id – BATAM Ledakan ekonomi digital membuka peluang besar bagi generasi muda, tetapi juga menghadirkan jebakan baru. Kemudahan mengakses investasi dan produk keuangan digital tidak otomatis diikuti kemampuan memahami risiko.

Pesan itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, saat mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra dalam kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) di Politeknik Negeri Batam, Senin (31/8/2026).

Forum bertema “Ekosistem ITSK, Pengenalan Kripto, RWA, dan Stablecoin” tersebut menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi perubahan cepat di sektor keuangan. Bagi mahasiswa, perkembangan teknologi finansial bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja dan risiko yang menyertainya.

Firmansyah mengingatkan, perkembangan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA) dan stablecoin tidak boleh dipandang semata sebagai peluang mendapatkan keuntungan.

Menurutnya, setiap keputusan finansial harus didasarkan pada pemahaman mengenai fundamental aset, risiko investasi, keamanan platform serta aspek legalitas.

“Jangan sampai karena FOMO, kita mengambil keputusan finansial tanpa memahami fundamental aset, risiko investasi, keamanan platform maupun legalitasnya,” ujar Firmansyah.

Peringatan tersebut menjadi relevan di tengah semakin luasnya akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,61 persen, sementara literasi keuangan berada pada angka 69,57 persen.

Kesenjangan antara akses dan pemahaman juga terlihat pada kelompok muda. Usia 18–25 tahun mencatat inklusi keuangan 95,69 persen dengan literasi 73,32 persen. Sementara pada kelompok pelajar dan mahasiswa, inklusi mencapai 92,76 persen, tetapi literasinya baru 62,72 persen.

Artinya, semakin mudah seseorang masuk ke ekosistem keuangan, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan ia memahami konsekuensi dari setiap keputusan finansial.

Firmansyah menilai, generasi muda tidak boleh berhenti sebagai konsumen teknologi. Batam membutuhkan anak muda yang mampu mengembangkan teknologi menjadi produk, layanan, usaha dan inovasi yang menghasilkan nilai ekonomi.

Posisi Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, jasa dan investasi dinilai memberikan ruang besar bagi lahirnya pelaku ekonomi digital baru. Perguruan tinggi menjadi salah satu titik penting untuk mendorong perubahan tersebut.

Karena itu, mahasiswa didorong membangun pola pikir kritis. Bukan sekadar bertanya mengenai apa yang sedang ramai, tetapi juga menguji apakah sebuah teknologi atau instrumen keuangan memiliki fundamental dan manfaat yang jelas.

“Jangan hanya bertanya, apa yang sedang tren. Tetapi bertanyalah, apa yang fundamental, apa risikonya, dan bagaimana teknologi ini bisa menciptakan nilai,” katanya.

Menurut Firmansyah, literasi keuangan tidak cukup hanya dengan mengetahui istilah seperti kripto, RWA, stablecoin atau produk digital lainnya. Literasi harus menghasilkan kemampuan untuk memilah informasi, membaca risiko dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Penguatan ekosistem tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perguruan tinggi, industri dan generasi muda. Tujuannya bukan sekadar mengejar percepatan adopsi teknologi, melainkan memastikan pertumbuhan ekonomi digital berjalan dengan prinsip keamanan, legalitas, inklusivitas dan keberlanjutan.

Ia berharap kegiatan Digital Financial Literacy tidak berhenti sebagai forum edukasi. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa harus diterjemahkan menjadi keberanian menciptakan inovasi dan membuka peluang ekonomi baru.

Batam, kata dia, tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi. Batam harus mampu menjadi tempat lahirnya inovasi dan talenta yang ikut menentukan arah ekonomi digital.

“Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang cepat mengikuti perkembangan teknologi. Batam harus mampu melahirkan generasi muda yang menciptakan inovasi, membuka peluang, dan mengambil peran dalam menentukan arah ekonomi digital,” tegas Firmansyah.
(Rvi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *