DATOK HM. RASYID TAB PIMPIN EKSPEDISI MENJEJAK KOTA PIRUZ KUNDUR, DAN PENULISAN ULANG SEJARAH KUNDUR

CAHAYAMELAYU.MY.ID – TANJUNGBATU |
Riak pelayaran sejarah di Selat Melaka kembali menemukan episentrum barunya. Setelah sekian lama redup dalam wacana akademis, tabir misteri keberadaan Kota Piruz—sebuah situs permukiman kuno yang diyakini pernah jaya di pesisir Pulau Kundur—kini mulai disorot kembali oleh para peneliti dan sejarawan maritim.
Geliat kebangkitan riset sejarah ini tidak lepas dari persistensi seorang tokoh adat dan pengamat budaya lokal, HM. Rasyid Tab. Melalui rangkaian diskusi intensif, penelusuran peta kolonial lama, hingga sinkronisasi memori kolektif masyarakat adat di lingkar Pulau Kundur dan Pulau Belat, ia berhasil meyakinkan banyak pihak bahwa jejak Kota Piruz bukan sekadar mitos pengantar tidur.
Jurnalis CahayaMelayu berkesempatan menemui HM. Rasyid Tab di kediamannya yang asri, tidak jauh dari kawasan pesisir yang menghadap langsung ke Selat Belat. Berikut adalah petikan wawancara mendalam mengenai visi, temuan, dan peta jalan penelusuran Kota Piruz ke depan.
Menghubungkan Serpihan yang Tercecer
CahayaMelayu (CM): Selamat siang, Pak Rasyid. Belakangan ini nama Anda kerap disebut sebagai motor penggerak utama di balik kembalinya geliat penelitian Kota Piruz di Pulau Kundur. Apa sebenarnya yang memicu Anda untuk “membangunkan” kembali riset yang sempat tertidur ini?
HM. Rasyid Tab (RT): “Selamat siang. Sebenarnya, ini bukan soal ambisi pribadi, melainkan utang sejarah yang harus kita bayar kepada generasi mudik Melayu. Kita terlalu lama memunggungi laut dan melupakan bukit-bukit penanda kita. Kota Piruz, dalam ingatan tua masyarakat kita, adalah simpul perdagangan penting. Ketika saya melihat peta-peta lama, dipadukan dengan toponimi lokal seperti Bukit Patong yang berhadapan langsung dengan pusat hunian Datok Batin Pulau Belat di Boeah Batang, saya sadar ada linimasa yang terputus. Kita punya bukti geografis, kita punya sastra lisan, tapi mengapa penelitiannya mandek? Dari sanalah saya mulai bergerak merajut kembali serpihan-serpihan informasi ini.”
CM: Bagaimana Anda melihat korelasi antara posisi Bukit Patong, struktur adat Datok Batin Belat, dengan keberadaan situs Kota Piruz itu sendiri?
RT: “Sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Dalam lanskap maritim tradisional, sebuah kota pelabuhan atau pusat permukiman kuno seperti Kota Piruz tidak berdiri di ruang hampa. Mereka membutuhkan benteng alam sebagai pelindung dan panduan navigasi—itulah fungsi Bukit Patong. Mereka juga membutuhkan legitimasi keamanan laut, yang secara tradisional dipegang oleh struktur kebatinan, seperti keluarga Datok Batin di Pulau Belat. Jadi, dengan memetakan wilayah kekuasaan adat Boeah Batang dan mencocokkannya dengan arsip hidro-topografi kolonial, kita sebenarnya sedang menggambar ulang blueprint atau peta tata ruang dari masa kejayaan Kota Piruz.”
Menembus Batas Mitos dan Dokumen Kolonial
CM: Banyak pihak yang awalnya skeptis dan menganggap Kota Piruz hanyalah bagian dari epos sastra lisan Melayu pesisir yang dilebih-lebihkan. Bagaimana Anda meyakinkan para peneliti formal untuk turun gunung?
RT: “Mitos atau sastra lisan itu adalah cara orang tua-tua kita menyembunyikan arsip sejarah agar tidak hilang ditelan zaman. Tugas kita adalah menerjemahkan metafora sastra itu ke dalam pembuktian ilmiah. Saya tunjukkan kepada mereka bahwa nama-nama tempat di dalam cerita rakyat itu klop dengan Admiralty Charts milik Inggris dan peta Topographische Inrichting milik Hindia Belanda abad ke-19. Ketika dokumen kolonial mencatat titik kontur yang sama dengan apa yang diceritakan oleh para tetua adat, barulah para peneliti ini sadar bahwa kita sedang membicarakan fakta arkeologis yang nyata.”
CM: Lantas, apa target terdekat dari gerakan penelitian yang Anda pelopori saat ini?
RT: “Saat ini kami sedang mendorong sinkronisasi data interdisipliner. Kami membagi tim menjadi tiga fokus utama. Pertama, tim yang melacak dokumen kartografi digital di repositori Belanda. Kedua, tim etnografi yang merekam silsilah dan memori lisan dari anak cucu keturunan Tok Batin di Pulau Belat. Ketiga, tim Arkeologi yang mulai melakukan survei permukaan (surface find) di titik-titik potensial. Kita ingin dalam waktu dekat ada sebuah kajian akademis komprehensif yang diakui secara nasional.”
Harapan bagi Masa Depan Kundur
CM: Jika keberadaan dan kejayaan Kota Piruz ini berhasil direkonstruksi secara utuh, apa dampaknya bagi masyarakat Pulau Kundur dan Kepulauan Riau secara umum?
RT: “Dampaknya sangat luar biasa. Secara identitas, ini akan mengembalikan kebanggaan warga Kundur bahwa tanah yang mereka pijak hari ini adalah tanah peradaban besar, bukan sekadar wilayah pinggiran. Secara praktis, ini bisa membuka ruang bagi pengembangan wisata sejarah berbasis budaya (cultural heritage tourism). Kita bisa mengintegrasikan rute sejarah dari Bukit Patong, menyusuri jalur pelayaran tradisional ke Pulau Belat, hingga ke situs inti Kota Piruz. Ini akan menghidupkan ekonomi masyarakat pesisir.”
CM: Terakhir, Pak Rasyid. Apa pesan Anda untuk generasi muda Melayu yang mungkin saat ini lebih akrab dengan gawai daripada sejarah negerinya sendiri?
RT: “Gawai itu hanya alat, isinya tergantung kita. Gunakan teknologi hari ini untuk menjelajahi masa lalu kita. Bangsa yang besar tidak akan membiarkan sejarahnya tenggelam di dasar selat. Kota Piruz dan Bukit Patong adalah bukti bahwa kita adalah orang laut yang tangguh, yang mampu membaca angin dan mengelola peradaban. Pelajari sejarahmu, karena di sanalah kompas masa depanmu berada.”
Melanjutkan penelusuran eksklusif redaksi atas geliat riset Kota Piruz (Bandar Firuz) di Pulau Kundur, kiblat pencarian sejarah maritim kini bergeser pada rilisnya buku fenomenal Kondor Sriwijaya: Bayangan di Garis Khatulistiwa. Buku mutakhir ini melontarkan tesis berani yang siap mengguncang historiografi Asia Tenggara.
Jurnalis CahayaMelayu berkesempatan mewawancarai langsung salah satu konseptor utama di balik buku ini: Nuri Che Shiddiq, seorang peneliti sejarah Melayu terkemuka asal Bintan sekaligus Direktur Firma NuriC & Partner, Research and Heritage Consulting.
Bersama rekan penulisnya, HM. Rasyid Tab dan Oki Koto, Nuri membedah bagaimana sebuah kesalahan catatan kaki (footnote) orientalis di Oxford pada akhir abad ke-19 telah berhasil “memindahkan” sebuah pulau bersejarah sejauh ribuan mil! Berikut adalah petikan wawancara ilmiah yang mendalam dan lugas:
Kekeliruan Indah J. Takakusu di Oxford (1896)
CahayaMelayu (CM): Selamat siang, Bung Nuri. Buku “Kondor Sriwijaya” dibuka dengan sebuah gugatan metodologis yang sangat tajam terkait catatan kaki J. Takakusu di Oxford pada tahun 1896. Bisa Anda jelaskan apa persisnya “dosa sejarah” yang coba Anda luruskan di sini?
Nuri Che Shiddiq (NS): “Selamat siang. Ya, buku ini memang lahir dari sebuah keberatan sederhana terhadap catatan kaki. Pada tahun 1896, saat J. Takakusu menerjemahkan catatan biksu Tiongkok I-Tsing, ia menulis satu baris pendek: ‘K’u-lun Island; Pulo Condore.’ Baris kecil itu berakibat fatal selama lebih dari seratus tahun. Historiografi arus utama langsung mengambil jalan pintas dengan menyamakan Pulo Condore ini dengan Côn Đảo di lepas pantai Vietnam.”
“Melalui dekonstruksi fonetik forensik, kami membuktikan lidah penutur bahasa Tionghoa kuno dari Dinasti Tang kesulitan melafalkan kata asli Melayu ‘Kundrun’ atau ‘Kundur’. Pola adaptasi linguistik yang wajar mengubah bunyi itu melembut menjadi Ku-lun (崑崙). Jadi, K’u-lun yang dimaksud I-Tsing sebagai simpul pelayaran internasional di abad ke-7 sesungguhnya adalah Pulau Kundur di Kepulauan Riau, bukan gugusan pulau di Vietnam! T Takakusu bahkan secara ambivalen menulis catatan kecil: ‘Bahasa itu dikenal sebagai Kun-lun (Melayu, bukan Pulo Condore)’. Di sini logika kartografi mereka mulai retak.”
Hubungan Persia, Sriwijaya, dan Misteri Toponimi Patong
CM: Menarik sekali. Dalam buku Anda, toponimi ‘Patong’ (atau Bukit Patung saat ini) disebut sebagai jangkar bukti yang tidak bisa dipatahkan. Bagaimana NuriC & Partner melihat konvergensi ini?
NS: “Dalam riset heritage consulting yang kami lakukan, kami tidak bisa hanya bersandar pada kemiripan bunyi. Kami menggunakan metode Consilience—konvergensi multi-disiplin yang saling mengunci. Akar kata ‘Kundur’ dalam bahasa Pahlavi (Persia Menengah) dan Sanskerta (kunduru) merujuk pada resin aromatik atau kemenyan. Pulau Kundur adalah fosil komoditas; ia adalah simpul perdagangan aromatik kuno yang mempertemukan armada diaspora Persia (Po-sse) dengan mandala Sriwijaya.”
“Lalu di mana pelabuhan utamanya? Jawabannya ada di Patong. Sastra lisan kita, seperti Syair Selindung Delima, menunjuk secara eksplisit lokasi bernama Patong sebagai Bandar Piruz—kata Persia yang berarti ‘Kemenangan’ atau ‘Yang Makmur’. Peta Hidrografis Hindia Belanda (1896–1899) mencatat nama Patong dengan batimetri kedalaman laut yang sangat ideal untuk pelabuhan alam armada kapal-kapal besar. Nama ini berevolusi di dokumen konsesi 1935 menjadi Patang, peta modern menjadi Palong, dan di peta satelit hari ini tersisa sebagai Bukit Patung.”
Tragedi Tambang Terbuka dan Keheningan yang Disengaja
CM: Jika memang ada bandar besar sekosmopolit itu di Kundur Utara, mengapa begitu minim temuan arkeologis struktural di permukaan hari ini? Apakah narasi ini tidak terkesan spekulatif?
NS: “Ketiadaan bukti fisik di permukaan hari ini bukan bukti bahwa bandar itu tidak pernah ada. Itu adalah bukti keberhasilan dari sebuah Tragedi Penghancuran Fisik yang Terencana. Berdasarkan dokumen keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 22 tanggal 6 Maret 1935, seluruh kawasan teluk Patong–Tebias seluas 365 hektar diserahkan bulat-bulat kepada perusahaan tambang timah kolonial, N.I.T.E.M.”
“Aktivitas tambang terbuka (open-pit mining) skala raksasa mengupas, membalikkan, dan meratakan seluruh lapisan tanah atas permukaan (horison arkeologis) selama berpuluh-puluh tahun, lalu membuang sisa tanahnya ke laut. Puing-puing pelabuhan kuno, pecahan keramik, dan fondasi Bandar Piruz ikut musnah digilas alat berat demi pengerukan timah. Belanda sengaja menyembunyikan narasi sejarahnya agar klaim eksploitasi mereka atas ‘tanah kosong’ dianggap sah secara politik.”
[Abad ke-7] Bandar Piruz (Patong) -> Pusat Niaga Global (Persia & Sriwijaya)
|
[Abad ke-19] Dicatat Peta Hidrografi Belanda -> Nilai Strategis & Batimetri Dalam
|
[Tahun 1935] Konsesi Tambang N.I.T.E.M -> Metode Tambang Terbuka (365 Hektar)
|
[Dampak] Lapisan Tanah Atas Dikupas -> Jejak Arkeologis Fisik Lenyap Total
Membawa Kebanggaan Melayu ke Arena Ilmiah yang Jujur
CM: Sebagai penutup, apa pesan utama yang ingin disampaikan oleh Firma NuriC & Partner melalui peluncuran buku “Kondor Sriwijaya” ini?
NS: “Kami ingin meruntuhkan Terrestrial Bias—bias logika yang menganggap peradaban hebat itu harus selalu meninggalkan candi atau monumen batu besar di daratan. Sriwijaya dan sekutunya adalah talasokrasi; mereka menulis sejarah di atas air, mengontrol chokepoint, dan membangun infrastruktur dari kayu organik yang cepat lumat oleh waktu tropis.”
“Buku ini adalah undangan terbuka untuk menguji. Kami menyusunnya menggunakan Claim Governance Framework (CGF) 2.0 yang ketat. Kami menantang para akademisi dan sejarawan regional untuk mematahkan tesis ini menggunakan argumen ilmiah yang lebih kuat, bukan sekadar doktrin hafalan kolonial lama. Tanah Kepulauan Riau bukanlah pinggiran sejarah, ia adalah porosnya. Dan laut, sedalam apa pun rahasia yang coba ditenggelamkan darinya, pada akhirnya akan selalu berbicara jujur.” (CM/Red)
