Zero HALINAR Lapas Batam Diuji: Kalau Benar Nol, Publik Minta Data
Tujuh pertanyaan publik untuk Kalapas Yosafat Rizanto, dari HP ilegal, narkotika, dugaan pungli, pengawasan petugas hingga efektivitas SI OMEGA sepanjang 2026
Cahayamelayu.my.id – BATAM – Kata “Zero” terdengar tegas. Tetapi dalam pengelolaan lembaga pemasyarakatan, angka nol tidak cukup diumumkan-ia harus dibuktikan.
Itulah yang kini menjadi pertanyaan publik terhadap pelaksanaan program Zero HALINAR di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Batam.
Pada 20 April 2026, Lapas Batam mendeklarasikan komitmen Zero HALINAR yang mencakup Handphone, Pungli dan Narkoba. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keamanan, integritas petugas serta mencegah masuk dan beredarnya barang terlarang di lingkungan Lapas.
Namun setelah deklarasi, publik tentu berhak mengetahui bagaimana hasil konkretnya.
Apakah benar tidak ada lagi handphone ilegal?
Apakah tidak ada narkotika?
Bagaimana dengan dugaan pungutan liar?
Bagaimana pengawasan terhadap petugas?
Dan apakah sistem pengawasan baru yang diterapkan benar-benar efektif?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan data, bukan sekadar pernyataan normatif.
7 Pertanyaan untuk Kalapas Batam
1. Berapa HP ilegal ditemukan sepanjang 2026?
Sejak Januari hingga September 2026, berapa unit handphone ilegal yang ditemukan di dalam Lapas Batam?
Jika nihil, bagaimana Lapas memastikan bahwa tidak ada perangkat ilegal yang masuk ke blok hunian?
Jika terdapat temuan, berapa jumlahnya dan bagaimana tindak lanjut terhadap pelanggaran tersebut?
2. Berapa narkotika yang ditemukan?
Berapa paket dan berapa total berat narkotika yang ditemukan di lingkungan Lapas Batam sepanjang 2026?
Apakah pernah ditemukan sabu, ekstasi, ganja atau jenis narkotika lainnya?
Jika ada temuan, apakah barang bukti dan pihak yang terkait telah diproses sesuai ketentuan hukum?
3. Apakah ada warga binaan diproses hukum?
Apakah sepanjang 2026 ada warga binaan yang diproses secara hukum karena dugaan kepemilikan handphone ilegal maupun narkotika?
Jika ada, berapa jumlahnya?
Bagaimana status penanganan masing-masing perkara?
Pertanyaan ini penting untuk melihat apakah setiap pelanggaran benar-benar ditindak atau hanya berhenti pada tindakan internal.
4. Bagaimana pengawasan terhadap petugas?
Zero HALINAR tidak hanya menyangkut warga binaan.
Karena itu, publik juga perlu mengetahui:
Apakah sepanjang 2026 ada petugas Lapas Batam yang diperiksa atau dikenai sanksi terkait dugaan masuknya HP ilegal, narkotika maupun pelanggaran terhadap ketentuan Zero HALINAR?
Jika tidak ada, bagaimana mekanisme pengawasan internal memastikan seluruh petugas mematuhi aturan?
5. Seberapa efektif SI OMEGA?
Lapas Batam memperkenalkan SI OMEGA sebagai sistem digital untuk mendata perangkat handphone milik petugas, termasuk identifikasi melalui nomor IMEI.
Pertanyaannya:
Berapa jumlah petugas yang telah terdata?
Bagaimana mekanisme verifikasi IMEI?
Apakah pemeriksaan dilakukan secara berkala?
Dan apa tindakan terhadap perangkat yang ditemukan tidak sesuai dengan data?
Publik perlu mengetahui apakah SI OMEGA benar-benar menjadi instrumen pengawasan atau hanya sebatas sistem pendataan.
6. Bagaimana barang masuk diperiksa?
Jalur masuk barang menjadi bagian penting dalam sistem keamanan Lapas.
Bagaimana pemeriksaan terhadap makanan, barang titipan, barang bawaan pengunjung dan kebutuhan warga binaan?
Apakah setiap barang diperiksa dan dicatat?
Bagaimana pengawasan terhadap area luar tembok Lapas untuk mencegah kemungkinan masuknya barang terlarang?
Pertanyaan ini bukan tuduhan adanya pelanggaran, melainkan bagian dari pengujian sistem pengamanan.
7. Apa indikator keberhasilan Zero HALINAR?
Ini pertanyaan paling penting.
Setelah deklarasi 20 April 2026, apa indikator keberhasilan Zero HALINAR yang digunakan Lapas Batam?
Berapa kali razia dilakukan?
Berapa temuan HP?
Berapa temuan narkotika?
Berapa laporan dugaan pungli?
Berapa pelanggaran petugas?
Berapa warga binaan yang dikenai tindakan?
Dan berapa kasus yang diteruskan kepada aparat penegak hukum?
Jika angka tersebut benar-benar nol, publik tentu akan melihatnya sebagai capaian positif.
Tetapi jika terdapat temuan, masyarakat juga perlu mengetahui bahwa pelanggaran tersebut telah ditindak sesuai aturan.
Bukan Menuduh, Tetapi Meminta Pembuktian
Pertanyaan publik terhadap Lapas Batam tidak boleh diterjemahkan sebagai tuduhan bahwa masih terjadi peredaran narkotika, penggunaan HP ilegal atau pungli di dalam Lapas.
Tidak demikian.
Yang sedang diuji adalah efektivitas sebuah kebijakan yang telah dideklarasikan secara resmi.
Apalagi Lapas Batam pernah menghadapi persoalan terkait narkotika dan handphone pada periode sebelumnya. Catatan tersebut menjadi alasan yang wajar bagi publik untuk meminta sistem pengamanan saat ini dijelaskan secara terbuka.
Jika kondisi 2026 benar-benar bersih dari HP ilegal, narkotika dan pungli, maka data tersebut justru dapat menjadi bukti keberhasilan jajaran Lapas Batam.
Sebaliknya, apabila masih ditemukan pelanggaran, publik perlu mengetahui bagaimana mekanisme pencegahan dan penindakannya.
Publik Menunggu Jawaban
Kepala Lapas Kelas IIA Batam Yosafat Rizanto memiliki ruang untuk menjelaskan seluruh pertanyaan tersebut secara resmi.
Transparansi justru dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Lapas Batam.
Sebab ukuran keberhasilan Zero HALINAR bukan pada seberapa sering istilah tersebut disebut.
Ukuran sebenarnya adalah:
berapa pelanggaran ditemukan, berapa yang dicegah, berapa yang ditindak, dan bagaimana memastikan persoalan yang sama tidak berulang.
Pada akhirnya, pertanyaan publik sangat sederhana:
Jika Zero HALINAR benar-benar berhasil, beranikah Lapas Batam membuka datanya ?
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Kalapas Batam Yosafat Rizanto serta pihak terkait untuk memberikan penjelasan atas seluruh substansi pemberitaan ini.
