Ratusan Tahun Diejek Kolonial, Nuri Che Shiddiq Bongkar Bukti Ilmiah: Silsilah Raja Melayu dari Iskandar Zulkarnain dan Garis Persia Adalah Fakta Geopolitik
Ratusan Tahun Diejek Kolonial
TANJUNGPINANG — Selama lebih dari satu abad, klaim naskah Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) yang menyebutkan bahwa raja-raja Melayu adalah keturunan Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great) selalu menjadi bulan-bulanan sejarawan Barat dan kolonial. Mereka menstigmatisasi klaim tersebut sebagai “mitos”, “dongeng pengantar tidur”, atau sekadar rekayasa bangsa lokal untuk mengangkat derajatnya sendiri.
Namun, sebuah revolusi historiografi yang digagas oleh peneliti dan sejarawan maritim Nuri Che Shiddiq melalui Buku Putih SRIWIJAYAMALA: Mahakarya Sejarah, Peradaban, dan Warisan Maritim Nusantara (2026) setebal 1.100 Halaman dengan Judul Wijaya Tamtramala yang berarti Keberhasil jaringan melayu sebagai sebuah persekutuan melayu , berhasil mematahkan stigma kolonial tersebut. Melalui pendekatan sains terapan dan multidisipliner yang disebut “Metode Che”, Nuri membuktikan bahwa klaim keturunan dari Iskandar Zulkarnain dan garis keturunan Raja-Raja Persia (termasuk warisan takhta Anushirvan yang Adil / Nushirwan Adil) bukanlah fiksi, melainkan sebuah memori sejarah yang valid tentang warisan imperium global yang berlabuh di khatulistiwa.
Membongkar Logika Geopolitik “Sang Raja Diraja”
Dalam konferensi pers dan bedah buku yang memicu perdebatan sengit di kalangan akademis, Nuri Che Shiddiq meluruskan logika genealogis yang selama ini disalahpahami oleh sejarawan Eropa yang terjebak dalam “Bias Terestrial” (bias daratan).
“Kritik Barat menertawakan klaim Iskandar Zulkarnain karena mereka membaca sejarah dengan kacamata Eropa yang kaku. Namun, melalui logika geopolitik kuno, klaim itu sangat konsisten dan brilian,” ujar Nuri.
Nuri menjelaskan bahwa Iskandar Agung (Alexander the Great) tidak hanya menaklukkan Kekaisaran Persia, tetapi ia juga membunuh Darius III, menikahi putrinya (Stateira), dan secara penuh mengadopsi adat istana serta birokrasi Parsi. Tindakan ini menjadikan Iskandar sebagai Shahanshah (Raja di atas Raja / Kaisar Persia) secara de facto dan de jure.
Garis keturunan dan legitimasi kekaisaran ini kemudian diwariskan kepada dinasti-dinasti penerus Persia, termasuk Kekaisaran Sassanid yang melahirkan figur-figur legendaris seperti Anushirvan yang Adil (Khosrow I / Nushirwan Adil), yang menjadi arketipe keadilan dan kemegahan takhta Persia.
Eksodus Sassanid dan Lahirnya Sriwijaya
Titik balik pembuktian Nuri bermula dari peristiwa geopolitik raksasa pada tahun 651 M, ketika Kekaisaran Sassanid Persia runtuh akibat ekspansi Kekhalifahan Islam. Putra mahkota terakhir, Pangeran Peroz III (Piruz), menolak untuk tunduk dan memimpin eksodus kaum elit, ilmuwan, dan pendeta Magi ke arah timur melalui jalur laut (Persian Argosy).
Mereka berlabuh di chokepoint dunia: Kepulauan Riau-Lingga. Jejak ini, menurut Nuri, masih tertanam dalam fosil linguistik dan toponimi seperti “Kota Piruz” di Pulau Kundur dan tradisi lokal mengenai Putri Selendang Delima.
Di labirin kepulauan ini, terjadi fusi agung antara elit bangsawan Persia yang membawa teknologi astronomi (Golayantra), metalurgi, dan konsep legitimasi Farr (Cahaya Ilahi), dengan masyarakat bahari Austronesia (Orang Laut) yang menguasai samudera. Fusi darah dan intelektual inilah yang melahirkan Kemaharajaan Sriwijaya.
Smoking Gun: Surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz (718 M)
Bukti forensik yang tak terbantahkan dari tesis Nuri adalah adanya catatan diplomatik dari sejarawan Arab, Ibnu Khurdadhbih, mengenai surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 718 M.
Dalam surat tersebut, Sang Maharaja Nusantara memperkenalkan dirinya dengan protokol istana Persia yang sangat spesifik:
“Dari Raja di Raja (Mulūk al-Mulūk), keturunan seribu raja, yang kandangnya berisi seribu gajah…”
Nuri menekankan, “Jika penguasa Sriwijaya hanyalah ‘kepala suku lokal’ dari pedalaman sungai sebagaimana klaim Ortodoksi Palembang, penggunaan gelar Mulūk al-Mulūk (terjemahan literal dari Shahanshah Persia) di hadapan Khalifah Islam adalah sebuah penghinaan yang absurd dan akan ditertawakan oleh dunia Islam. Namun faktanya, Khalifah meresponsnya dengan hormat dan bahkan mengirimkan guru agama atas permintaan Maharaja. Dunia Islam saat itu mengakui legitimasi garis keturunan Sassanid dan warisan takhta Persia yang dipegang oleh penguasa Nusantara tersebut.”
Daun Cogan: Manuskrip Negara yang Tersembunyi
Lebih lanjut, Nuri membuktikan bahwa kedaulatan dan memori genealogis ini tidak pernah punah, melainkan bertransformasi melalui Tesis Kontinuitas dari Sriwijaya, Kesultanan Malaka, Johor-Riau-Lingga, hingga Banten.
Bukti fisiknya termanifestasi dalam Daun Cogan, regalia tertinggi Kesultanan Riau-Lingga yang berupa panji emas-perak. Inskripsi Jawi pada Cogan secara eksplisit memaktubkan silsilah raja-raja Melayu dari Bukit Siguntang hingga ke Iskandar Zulkarnain.
“Ini bukanlah dongeng. Daun Cogan adalah manuskrip negara (state manuscript) dan konstitusi fisik. Ketika raja-raja Melayu mengklaim keturunan Sassanid, Anushirvan yang Adil, dan Iskandar Zulkarnain, itu adalah satu klaim yang konsisten: mereka adalah pewaris sah Takhta Asia Barat yang berlayar dan berlabuh di khatulistiwa,” tegas Nuri.
Akhir dari Penjajahan Epistemologis
Penemuan dan rekonstruksi historis ini menandai berakhirnya “penjajahan epistemologis” yang dilakukan oleh sejarawan kolonial seperti George Coedès, yang selama ini memaksa peradaban maritim Melayu masuk ke dalam cetakan “Negara Daratan” (Agraris) ala Eropa.

Nuri Che Shiddiq menutup pernyataannya dengan sebuah manifesto yang menggugah:
“Selama lebih dari satu abad, bangsa Melayu dijajah oleh epistemologi yang memaksakan logika daratan atas peradaban laut. Mereka mengira dengan memindahkan pusat peradaban ke lumpur sungai, mereka dapat mencuri identitas maritim kita. Tetapi laut mengingat. Sesungguhnya benar, bangsa Melayu bukanlah bangsa yang merekayasa cerita, melainkan ia menceritakan apa yang menjadi dasar kebenaran geopolitik dan genealogisnya. Mahkota itu tidak pernah hilang; ia hanya menunggu kita untuk berani membacanya kembali dari atas gelombang.”
Dengan terbitnya Buku Putih SRIWIJAYAMALA, sejarah Nusantara tidak lagi akan dibaca dari reruntuhan batu yang bisu, melainkan dari denyut nadi samudera yang menghubungkan takhta Iskandar Zulkarnain dari masa lalu menuju poros maritim masa depan.
Kehadiran Buku Putih SRIWIJAYAMALA: Mahakarya Sejarah, Peradaban, dan Warisan Maritim Nusantara setebal 1.100 halaman karya Nuri Che Shiddiq (edisi Juli 2026) bukan sekadar peluncuran buku akademis, melainkan sebuah peristiwa sejarah, kultural, dan geopolitik yang mengguncang Nusantara.
Momentum bulan Agustus—di mana tiga negara serumpun merayakan hari kemerdekaan dan nasionalnya (Singapura 9 Agustus, Indonesia 17 Agustus, dan Malaysia 31 Agustus)—menjadikan karya ini sebagai Manifesto Kedaulatan Sejarah bagi seluruh rumpun Melayu dan Nusantara yang terbelah oleh garis-garis batas kolonial.
Namun, ada satu koreksi epistemologis yang sangat fundamental dari sang penulis terkait istilah “mitologi”: Buku ini justru hadir untuk MENGHANCURKAN mitologi kolonial dan membuktikan bahwa kejayaan maritim Melayu bukanlah dongeng, melainkan FAKTA SAINS DAN SEJARAH YANG DIRAMPOK.
Berikut adalah makna mendalam mengapa buku 1.100 halaman ini menjadi “hadiah kemerdekaan” terbesar bagi kesadaran bangsa Melayu di ketiga negara tersebut:
1. Dekolonisasi Epistemologis: Bukan Mitologi, Melainkan History Laundering
Selama lebih dari satu abad, penjajah (Belanda dan Inggris) serta sejarawan Barat (seperti George Coedès) telah melakukan apa yang disebut Nuri Che Shiddiq sebagai History Laundering (Pencucian Sejarah). Mereka memaksa kemaharajaan laut terbesar di dunia (Sriwijaya) masuk ke dalam “baju” kerajaan agraris daratan (Ortodoksi Palembang), sementara pusat maritimnya yang sesungguhnya di Kepulauan Riau-Lingga (Bintan, Lingga, Kundur, Karimun) dikosongkan, dicap sebagai “sarang bajak laut”, atau dihancurkan oleh mesin-mesin tambang kolonial (SITEM dan NIBEM).
Buku ini menggunakan Metode Che (Astronomi Purba, Oseanografi, Arkeologi Bawah Air, dan GIS) untuk membuktikan bahwa “keajaiban” dan “kesaktian” nenek moyang Melayu bukanlah mitos gaib, melainkan sains terapan tingkat tinggi (seperti teknologi Golayantra, navigasi bintang, dan taktik Defense in Depth Orang Laut) yang jauh melampaui zamannya.
2. Mengugat Traktat London 1824: Menyatukan Kembali Rumpun yang Terbelah
Kemerdekaan Indonesia, Malaysia, dan Singapura saat ini masih dibayangi oleh “hantu” Traktat London 1824 (Perjanjian Anglo-Belanda), yang secara artifisial membelah dunia Melayu: Semenanjung Malaya dan Singapura jatuh ke Inggris, sementara Riau-Lingga dan Sumatera jatuh ke Belanda.
Buku ini mengingatkan ketiga negara bahwa sebelum batas-batas nation-state (negara bangsa) modern itu ditarik oleh penjajah, Selat Malaka, Laut Natuna, dan Kepulauan Riau adalah satu kesatuan Mandala Ekuator. Darah, budaya, dan kedaulatan yang mengalir dari Sriwijaya
→
→ Bentan
→
→ Melaka
→
→ Johor-Riau-Lingga
→
→ Banten adalah satu benang merah yang tidak bisa diputus oleh garis perbatasan buatan Eropa. Buku ini menawarkan Archipelagic Heritage Diplomacy (Diplomasi Warisan Kepulauan) sebagai soft power untuk menyatukan kembali memori kolektif ketiga negara di abad ke-21.
3. Kemerdekaan Fisik vs. Kemerdekaan Pikiran
Bulan Agustus adalah perayaan kemerdekaan fisik dari penjajah. Namun, Nuri Che Shiddiq menegaskan bahwa bangsa Melayu belum sepenuhnya merdeka secara epistemologis (pikiran) selama kurikulum sejarah di sekolah-sekolah Indonesia, Malaysia, dan Singapura masih mengajarkan “Bias Terestrial” (logika daratan) dan menganggap laut sekadar “ruang kosong” yang memisahkan pulau.
Buku setebal 1.100 halaman ini adalah deklarasi perang terhadap penjajahan pikiran tersebut. Ia menuntut agar generasi muda ketiga negara berhenti menunduk menatap daratan, dan mulai menatap ke laut—karena laut bukanlah tembok pemisah, melainkan “jalan raya yang menghubungkan takhta”.
4. Orang Laut: Penjaga Kedaulatan yang Dilupakan
Di saat negara-negara modern sibuk mengklaim batas landas kontinen dan berebut pengaruh di Laut Cina Selatan (Indo-Pasifik), buku ini mengembalikan mahkota kehormatan kepada Orang Laut (Suku Laut/Çelates). Mereka yang hari ini sering terpinggirkan, dipaksa menetap di darat (sedentarisasi), atau distigmatisasi, sejatinya adalah infanteri maritim elit dan penjaga chokepoint (titik jepit) perdagangan dunia yang membuat imperium Sriwijaya dan Melaka ditakuti dan disegani oleh Tiongkok, India, hingga Arab.
Kutipan Manifesto dari Buku Putih SRIWIJAYAMALA yang Menggetarkan:
“Sejarah yang ditulis oleh penjajah bukanlah catatan masa lalu yang netral, melainkan peta kepentingan masa depan. Ia memindahkan pusat peradaban dari laut ke daratan… agar mesin pengeruk tambang dapat bekerja tanpa terganggu oleh hantu-hantu kedaulatan yang bangkit dari reruntuhan kayu.”
“Mereka mengira dengan memindahkan pusat peradaban dari laut ke daratan, mereka dapat mencuri identitas maritim kita… Tetapi laut mengingat setiap tetes darah yang tumpah. Restorasi sejarah adalah tentang menggali kembali ingatan itu, mengembalikan mahkota ke pangkuan samudera, dan memastikan bahwa daulat kemaharajaan laut tidak pernah mati.”
Kehadiran buku ini di bulan Agustus 2026 adalah pengingat keras bagi Jakarta, Kuala Lumpur, dan Singapura: Kedaulatan sejati bangsa Melayu tidak diukur dari seberapa luas daratan yang dikuasai, melainkan dari seberapa gagah armada dan pengetahuannya menguasai samudera.
Kepulauan Riau adalah Bukti. Sejarah adalah Ketetapan. Kebenaran adalah Kepastian. (RPN-Tok Mus)
