Beranda » Nuri Che Shiddiq Terbitkan The Land of Mars, Mengungkap Pulau Penyengat sebagai Simbol Harga Diri dan Peradaban Melayu

Nuri Che Shiddiq Terbitkan The Land of Mars, Mengungkap Pulau Penyengat sebagai Simbol Harga Diri dan Peradaban Melayu

0

Foto : Nuri Che Shiddiq

Tanjungpinang, Kepulauan Riau — Sejarawan, peneliti, dan penulis Melayu Kepulauan Riau Nuri Che Shiddiq menerbitkan karya terbaru berjudul The Land of Mars, sebuah buku yang menghadirkan perspektif berbeda tentang Pulau Penyengat sebagai pusat peradaban Melayu-Islam.

Buku ini tidak melihat Pulau Penyengat hanya sebagai kisah romantisme kerajaan atau sekadar cerita tentang hubungan pernikahan bangsawan masa lalu. Melalui kajian sejarahnya, Nuri Che Shiddiq menghadirkan Penyengat sebagai simbol harga diri, prinsip, keteguhan identitas, dan perjuangan mempertahankan marwah peradaban Melayu.

The Land of Mars ditulis oleh Nuri Che Shiddiq dan diterbitkan oleh Lenggo Geni Pustaka pada tahun 2026. Buku ini memiliki ISBN 978-634-97189-3-6, ukuran 15 x 23 cm, dan cetakan pertama Juli 2026.

Dalam pengantarnya, Nuri Che Shiddiq menjelaskan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan terhadap sejarah yang sering disederhanakan menjadi sekadar kumpulan kisah romantis, sementara nilai perjuangan, prinsip, dan akar peradaban sering terlupakan.

Menurutnya, Pulau Penyengat bukan hanya sebuah tempat yang dikenal karena kisah istana dan bangsawan, tetapi sebuah ruang sejarah tempat manusia mempertahankan kehormatan, keyakinan, ilmu, dan identitas budaya. Pulau kecil ini kemudian berkembang menjadi pusat intelektual, sastra, dan spiritual Melayu-Islam.

Melalui The Land of Mars, Nuri Che Shiddiq menawarkan pembacaan bahwa sejarah Pulau Penyengat tidak boleh berhenti pada narasi romantisme. Di balik bangunan, manuskrip, dan warisan budaya yang tersisa, terdapat kisah tentang marwah dan harga diri sebuah masyarakat yang berusaha menjaga jati dirinya di tengah perubahan zaman.

Buku ini membahas perjalanan Pulau Penyengat mulai dari sejarah awal, arsitektur peradaban, tradisi literasi Melayu, pusat studi Islam, kehidupan sosial masyarakat, hingga visi masa depan warisan budaya Melayu.

Nuri Che Shiddiq menggambarkan Pulau Penyengat sebagai sebuah simbol bahwa ukuran sebuah peradaban tidak ditentukan oleh luas wilayah, melainkan oleh kedalaman ilmu, nilai, dan warisan yang ditinggalkan. Pulau yang kecil dapat menjadi pusat cahaya peradaban apabila dibangun dengan visi dan prinsip yang kuat.

Dengan karya ini, Nuri Che Shiddiq mengajak pembaca melihat kembali Pulau Penyengat bukan sebagai legenda romantis semata, tetapi sebagai monumen sejarah tentang harga diri Melayu, keteguhan prinsip, dan warisan intelektual yang melampaui zaman.

Cahayamelayu.my.id — Mengangkat Cahaya Peradaban Melayu (HRP) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *